Lomba video yang diinisiasi oleh Yayasan SiDAQ Indonesia bukan sekadar panggung kompetisi seni peran, melainkan seruan terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat. Di Indonesia, jutaan muslim dewasa masih bergulat dengan rasa malu untuk belajar membaca Al-Qur'an dari nol.

Melalui film Huruf Pertama, penonton diajak merenungi hadis Rasulullah SAW,bahwa orang yang membaca Al-Qur'an dengan terbata-bata dan bersusah payah justru mendapatkan dua pahala. Tidak ada kata terlambat untuk mendekat pada wahyu Ilahi, karena Allah Ta'ala tidak menuntut kita langsung menjadi qari yang fasih, melainkan melihat setiap tetes keringat dan ketulusan hati kita untuk mau belajar.

Sinopsis Film: Saat Ketulusan Lebih Bermakna dari Sekadar Kefasihan

"Tak semua orang diberi kesempatan untuk wafat dalam keadaan memuliakan Al-Quran"

Inilah kisah seorang pria bernama Bara yang terbata-bata membaca Qur'an. Hurufnya tak selalu tepat, tapi semangatnya pada Kalamullah tak pernah pudar. Hingga di satu sore yang tenang, Allah Ta'ala memanggilnya saat ayat terakhir belum selesai.

Film pendek ini adalah pengingat, bahwa yang Allah Ta'ala lihat bukanlah kefasihan lidah, tapi ketulusan hati. Bersama SiDAQ, mari surgakan Indonesia dengan Al-Qur'an, hingga napas ini berhenti."

"Malu Itu Kalau Kita Tak Mau Memulai"

Kisah dalam film ini dibuka dengan pemandangan yang sangat dekat dengan realitas kehidupan masyarakat kita. Bara, seorang pemuda berusia 25 tahun, duduk termenung di selasar masjid seraya memendam rasa minder yang mendalam [01:10]. Baginya, di usia seperempat abad belum bisa melafalkan huruf-huruf Al-Qur'an terasa seperti aib yang membebani jiwa [01:10].

Namun, sahabatnya, Ryan, hadir membawa pelukan persaudaraan dan kata-kata yang meneduhkan [01:23]:

"Malu itu kalau kita nggak mau mulai. Kalau kita mulai dari sekarang, itu namanya berani. Ayo ngaji sama aku."

Di ruang masjid yang hening, keduanya duduk bersila menghadap mushaf [01:51]. Dengan sabar, Ryan membimbing huruf demi huruf [02:46], sementara Bara berjuang keras melafalkan tiap harakat dan tasydid meski lisannya masih kaku dan terbata-bata [02:06]. Namun, di balik kepolosannya yang baru mengeja huruf-huruf awal [02:25], ada keikhlasan yang begitu murni.

Siapa sangka, sore itu adalah pertemuan terakhirnya di dunia [03:38]. Bara tertunduk di atas meja mengajinya, mengembuskan napas terakhir sebelum bacaan ayatnya tuntas [03:48]. Ayatnya memang belum usai, namun akhir hayatnya telah ditemani oleh Al-Qur'an [03:50].

Inspirasi Nyata: Mahakarya dari Kesederhanaan

Pencapaian film Huruf Pertama membuktikan bahwa kekuatan sebuah karya tidak selalu diukur dari mahalnya alat produksi, melainkan dari kedalaman pesan dan kejujuran rasa yang disampaikan. Diproduksi secara independen dengan peralatan sederhana, tim MATProduction berhasil menyuguhkan visual yang sarat makna dan menyentuh emosi:


Produksi: MATProduction

Penulis Skenario & Penata Suara: Muh. Amin Akbar

Sutradara & Editor: Muh. Adib Tamariansyah

Tata Kamera: Teungku Ivaludin

Pemeran Utama: Muh. Amin Akbar (sebagai Bara) & Muh. Adib Tamariansyah (sebagai Ryan)

Tata Musik: Emotional Soft Piano oleh Bishoy Safwat Dergally

Perangkat Produksi: Smartphone Redmi Note 12 Pro, Tripod, Clip-On Boya, dan Laptop

Lokasi Pengambilan Gambar: Lingkungan Masjid Rahmatan Lil'alamin


Tonton Film Lengkapnya Sekarang

Mari luangkan waktu sejenak untuk meresapi pesan haru di balik film pendek berdurasi 4 menit ini. Saksikan kisah perjuangan Bara dan bagikan kebaikan ini kepada keluarga serta sahabat tercinta:

Tonton di YouTube:

https://www.youtube.com/watch?v=GSSvrb49XwQ

(Kanal YouTube: BERBAGI QUR'AN / SiDAQ)

https://www.youtube.com/watch?v=GSSvrb49XwQ